RSS Feed

Tag Archives: pernikahan

Dokumen Nikah, Info Catatan Sipil dan Daftar Alamat KUA (Kantor Urusan Agama) Seluruh Indonesia

Posted on

Buku_Nikah

    Dear Calon Mempelai,
Bagi kita semua yang mendambakan momen yang spesial dalam hidup kita, yaitu sebuah pesta resepsi pernikahan yang indah, banyak hal penting yang harus dilakukan.  Nah, thebridesmaiddiary  akan senantiasa mendampingi calon mempelai yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan berbagai informasi menarik, kali ini tentang pengurusan akta pernikahan.

 

Berikut adalah link ke Dinas Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, untuk daftar persyaratan dan pelayanan Akta Nikah:
Click here: INFO AKTA NIKAH

 

Berdasarkan informasi dari Kementrian Agama Republik Indonesia, berikut ini adalah link ke daftar alamat KUA (Kantor Urusan Agama) di seluruh Indonesia:  
Click here: ALAMAT KUA

 

Di bawah ini adalah informasi mengenai dokumen apa saja yang perlu kita ajukan paling tidak 10 (sepuluh) hari sebelum tanggal pernikahan. Kami sarankan anda mengajukannya paling tidak satu atau dua bulan sebelumnya, untuk menghindari kendala yang tidak diinginkan atau ketidak lengkapan dokumen.

 

PERKAWINAN SESAMA WNI
  • Foto Copy KTP dan Kartu Keluarga (KK) untuk calon Penganten (caten) masing-masing 1 (satu) lembar.
  • Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai minimal Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui RT, RW dan Lurah setempat.
  • Surat keterangan untuk nikah dari Kelurahan setempat yaitu Model N1, N2, N4, baik calon Suami maupun calon Istri.
  • Pas photo caten ukuran 2×3 masing-masing 4 (empat) lembar, bagi anggota ABRI berpakaian dinas.
  • Bagi yang berstatus duda/janda harus melampirkan Surat Talak/Akta Cerai dari Pengadilan Agama, jika Duda/Janda mati harus ada surat kematian dan surat Model N6 dari Lurah setempat.
  • Harus ada izin/Dispensasi dari Pengadilan Agama bagi:
    1. Caten Laki-laki yang umurnya kurang dari 19 tahun;
    2. Caten Perempuan yang umurnya kurang dari 16 tahun;
    3. Laki-laki yang mau berpoligami.
  • Ijin Orang Tua (Model N5) bagi caten yang umurnya kurang dari 21 tahun baik caten laki-laki/perempuan.
  • Bagi caten yang tempat tinggalnya bukan di wilayah Kecamatan yang bersangkutan, harus ada surat
  • Rekomendasi Nikah dari KUA setempat.
  • Bagi anggota TNI/POLRI dan Sipil TNI/POLRI harus ada Izin Kawin dari Pejabat Atasan/Komandan.
  • Bagi caten yang akan melangsungkan pernikahan ke luar wilayah Kecamatan anda harus ada Surat Rekomendasi Nikah dari KUA yang bersangkutan.
  • Kedua caten mendaftarkan diri ke KUA sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari kerja dari waktu melangsungkan Pernikahan. Apabila kurang dari 10 (sepuluh) hari kerja, harus melampirkan surat Dispensasi Nikah dari Camat setempat.
  • Bagi WNI keturunan, selain syarat-syarat tersebut dalam poin 1 s/d 10 harus melampirkan foto copy Akte kelahiran dan status kewarganegaraannya (K1).
  • Surat Keterangan tidak mampu dari Lurah/Kepala Desa bagi mereka yang tidak mampu.
PERSYARATAN NIKAH CAMPURAN
1. Akte Kelahiran/ Kenal diri
2. Surat Tanda Melapor Diri (STMD) dari Kepolisian
3. Surat keterangan Model K II dari Dinas Kependudukan
4. Tanda lunas pajak bangsa asing
5. Keterangan Izin Masuk Sementara (KIMS) dari Imigrasi
6. Passport
7. Surat Keterangan dari Keduataan/perwakilan Diplomatik yang bersangkutan.

Proses ini memang mungkin sedikit rumit. Kami persilahkan siapa saja untuk meninggalkan pertanyaan, dan semoga kami dapat menjawab dan mengakomodasi pertanyaan anda. Semoga informasi ini berguna untuk kalian semua.

Best,
Your Bridesmaids

 

 

Mau berapa kali acara resepsi???

Posted on

Waktu memutuskan untuk bantuin seorang calon pengantin untuk mengurus sebuah acara pernikahan, saya sangat bersemangat. Sejalan dengan semangat menggebu dan tekad kuat untuk mempersembahkan sebuah pernikahan indah dan sempurna, akhirnya jadi keblinger sendiri……. Jadilah saya termangu sendiri, bertopang dagu, dan berpikir keras. Bagaimana bisa membuat pernikahan indah sesuai keinginan calon pengantin tanpa harus melewati budget????

Ternyata memang uang yang berbicara juga. Dan ternyata lagi, kreatifitas tinggi dibutuhkan untuk budget mepet yang tetap ingin kelihatan “wah”. Murah tapi gak murahan lah….

Untungnya si calon pengantin enak diajak kerjasama, karena mereka sibuk dengan urusannya masing-masing nun jauh disana, jadilah saya yang mengajukan diri untuk mengurus pernikahan mereka.

Menurut pengalaman pribadi, saya harus memprioritaskan apa yang paling penting untuk kedua calon pengantin.  Berikut ini tips yang paling mungkin saya wujudkan untuk kondisi tamu yang banyak, dan meminimalkan pengeluaran dan biaya tak terduga.

1. Buat perencanaan.

planboard

Planboard ini sangat penting dalam merencanakan sebuah pernikahan. Planboard saya (lebih mirip daftar tepatnya), berisi berbagai vendor, antara lain,

*Venue, List tempat yang akan di survei

*Catering, berisi list catering yang akan di kontak atau survei

*Kue pengantin, kalau ini saya akan menggunakan vendor kenalan yang sudah ketahuan enak rasanya.

*Baju Pengantin, Make up

*Photography/Videography, nah ini dia, susah-susah gampang nyari jasa photography yang murmer banget, karena jatohnya akan sangat subyektif, sesuai selera kita.

*Dekorasi

*Kartu undangan beserta souvenir, thanx God, sang capeng Pria mau membantu dalam hal ini.

*MC dan entertainment, kemungkinan juga minta tolong sama seorang kenalan yang mudah-mudahan masih kosong jadwalnya dan bersedia menolong,plissss…..

*Transportasi keluarga, seragam panitia dan keluarga, akomodasi, acara, rundown, dll,dsb…

2. Setelah itu, biasanya akan ada lagi yang terasa kurang, dan timbullah berbagai pertanyaan:

apa???masih ada yang lain????

* Koq ternyata tempatnya nggak cukup yah, koq kekecilan yah, padahal udah suka banget nih, gimana dong???

*Koq AyahBunda gak setuju yah sama tempat dan konsepnya, katanya terlalu simple dan modern, katanya kurang sreg gitu…duhhh

* Tempatnya udah cocok banget nih sama konsep, tapi kok budgetnya mepet ya?

*Aku pinginnya out door, tapi keluarga pinginnya di gedung, padahal kan aku yang nikah, gimana ini?

* Undangan nya kenapa jadi nambah terus yah? Kalo si A nggak diundang, ntar nggak enak, kalo si B diundang, berarti si C,D,E,F,G juga harus diundang dunks???

* Undangan membludak, berarti anggaran juga membengkak downks?

* Keluarga ada di Surabaya, tapi kan kita tinggalnya di Jakarta, temen-temen di jakarta gak bisa dateng dong, kalo resepsi di Surabaya aja…???

Ide saya untuk solusi diatas adalah;

mengadakan acara lebih dari satu kali, misalnya, upacara pemberkatan dan syukuran pernikahan dengan konsep intim bersama teman terdekat di Jakarta, Resepsi keluarga besar dan klien lain(teman kerja orangtua misalnya) di Surabaya,

atau,

Cari tempat lain yang lebih besar, di weddingku.com disediakan berbagai informasi tempat yang disewakan untuk pernikahan dengan berbagai pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan,

atau,

Terpaksa harus menggunakan kartu kecil bertuliskan ‘undangan berlaku untuk 2 orang’ untuk mencegah tamu undangan yang membludak,

atau

apa lagi ya??? ada yang punya ide lain mungkin??

Pada akhirnya yang terpenting adalah, perjalanan hidup pernikahan itu sendiri, bagaimana kedua mempelai mengarungi mahligai rumahtangganya kelak. Sebuah perkawinan, dengan pesta resepsi pernikahan semewah apapun, mau sehari semalam, tujuh hari tujuh malam, adalah sebuah awal perjalanan menuju kehidupan pendewasaan diri yang sesungguhnya, dan harus dilandasi dengan dasar keteguhan hati dan komitmen yang kuat.

Jadi, bijaksanalah dalam mengatur pernikahan, utamakan apa yang membuat diri calon pengantin bahagia, toh, kita semua menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, karena kita tidak mungkin menyenangkan hati semua orang, yang mampu membahagiakannya adalah orang itu sendiri.

Jadi, mau resepsi berapa kali?? Terserah kebijaksanaan Anda……